Jumat, 11 September 2026
  • (0473) 21001
  • info@luwuutarakab.go.id

Progres tanggul sungai Masamba-Baliase capai 80 persen Bupati terus kawal penanganan banjir

Progres tanggul sungai Masamba-Baliase capai 80 persen Bupati terus kawal penanganan banjir Peninjauan Pembangunan Pengendali Banjir Sungai Baliase



LUWU UTARA — Pemerintah Kabupaten Luwu Utara terus memperkuat pengendalian banjir melalui pembangunan dan penguatan tanggul permanen di sejumlah titik rawan di sepanjang aliran Sungai Masamba dan Sungai Baliase.


Selain memberikan perlindungan bagi masyarakat dari ancaman banjir, pembangunan infrastruktur tersebut diharapkan mampu menjaga lahan pertanian sekaligus mendorong pemulihan ekonomi warga yang selama ini terdampak banjir.


Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim, bersama jajaran Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) meninjau langsung pembangunan tanggul permanen di Desa Mario, Desa Polewali Kecamatan Baebunta, serta Desa Pongo Kecamatan Masamba, Kamis (10/9/2026).


Di Desa Mario, pembangunan tanggul dilakukan pada lokasi yang sebelumnya mengalami kerusakan dan jebol hingga menyebabkan banjir ke Desa Pattimang serta sejumlah wilayah lainnya.


Penanganan kini dilakukan secara permanen dengan konstruksi yang lebih kuat dan disesuaikan dengan kondisi aliran sungai. Pembangunan tanggul di lokasi tersebut memiliki panjang kurang lebih 850 meter, dengan penanganan pada sejumlah titik.


Bupati mengapresiasi dukungan pemerintah pusat, khususnya Kementerian Pekerjaan Umum melalui BBWS, dalam memperkuat infrastruktur pengendali banjir di Luwu Utara.


“Alhamdulillah, hari ini tanggul di Desa Mario sudah dilakukan secara permanen dengan konstruksi yang lebih kuat. Sebelumnya di sini juga pernah dilakukan penanganan yang sifatnya sementara. Dengan penguatan yang dilakukan sekarang, kita optimistis pengendalian banjir di wilayah ini akan semakin baik,” ujar Bupati.


Menurutnya, penanganan tanggul perlu dilakukan secara berkelanjutan hingga seluruh titik rawan di sepanjang aliran sungai dapat tertangani.


Ia berharap dukungan Kementerian PU dan BBWS terus berlanjut, termasuk melalui penganggaran pada 2026 maupun 2027, sehingga pembangunan tanggul dapat dituntaskan.


“Kita berharap Kementerian PU dan BBWS terus memberikan perhatian dan dukungan anggaran untuk menuntaskan tanggul yang ada di aliran Sungai Masamba ini. Insya Allah, dengan tanggul yang kuat dan penanganan yang tuntas, banjir tidak lagi menghantui masyarakat,” katanya.


Progres Tanggul Pongo Capai 80 Persen


Sementara itu, pembangunan tanggul permanen di Desa Pongo, Kecamatan Masamba, juga menunjukkan progres signifikan. Berdasarkan hasil peninjauan lapangan, pekerjaan fisik telah mencapai sekitar 80 persen.


Untuk pembangunan tanggul permanen di Desa Pongo, pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum memberikan dukungan anggaran sekitar Rp19 miliar.


Bupati menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat yang dinilai menjadi bagian penting dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat di wilayah rawan banjir.


“Alhamdulillah, hari ini kami bersama Balai meninjau langsung pekerjaan tanggul permanen. Dari yang kita lihat, progres pekerjaan sudah cukup baik dan sudah sekitar 80 persen,” ujar Andi Abdullah Rahim.


Lindungi 60 Hektare Sawah, Pulihkan Ekonomi Warga


Bupati menegaskan, pembangunan tanggul permanen bukan sekadar pembangunan fisik untuk mengendalikan banjir. Lebih dari itu, keberadaan tanggul diharapkan memberikan dampak langsung terhadap kehidupan dan perekonomian masyarakat, khususnya sektor pertanian.


Ia mengungkapkan, sekitar 60 hektare lahan persawahan sebelumnya kerap terdampak banjir sehingga mengganggu produktivitas dan sumber penghidupan masyarakat.


Setelah dilakukan penanganan, masyarakat kini kembali dapat mengoptimalkan lahan pertanian dan menikmati hasil panen.


“Dulu kurang lebih 60 hektare lahan sawah di sini terdampak banjir. Sekarang masyarakat sudah bisa panen kembali, bahkan hasil panen mencapai kurang lebih 300 karung,” ungkapnya.


Hasil panen tersebut dipasarkan dengan harga sekitar Rp10.300 per kilogram. Kondisi ini menjadi indikator bahwa pemulihan infrastruktur pengendali banjir turut memberikan dampak terhadap aktivitas ekonomi masyarakat.


“Kita melakukan pembangunan tanggul ini secara teknis untuk mengendalikan banjir, tetapi secara ekonomis memberikan efek yang sangat besar bagi masyarakat, khususnya di Desa Mario dan wilayah sekitarnya,” pungkasnya.


Pemerintah Kabupaten Luwu Utara akan terus mendorong sinergi dengan pemerintah pusat agar penanganan tanggul di sejumlah titik rawan dapat dituntaskan. Dengan infrastruktur yang semakin kuat, masyarakat diharapkan semakin aman dari ancaman banjir dan dapat kembali mengembangkan aktivitas pertanian serta perekonomian secara berkelanjutan.